Masih sama dengan yang sudah lalu. Entah itu karena terlalu sembarang mengucap kata, entah karena memang harus merasa demikian. Lucunya semakin tidak lucu, hingga akhirnya yang seperti lalu-lalu tidak pernah terucap lagi sekalipun itu.
Terasa ada yang menusuk walaupun tidak pernah tahu itu apa. Saling menatap kemudian mengalihkan pandangan pada sesuatu yang lain. Jelas karena memang tidak ingin terlihat, padahal sangat gamblang terlukis di raut muka betapa uring-uringannya di kala tidak dihiraukan.
Yang salah siapa hingga menjadi sedemikian rumit benang-benang neuron di kepala. Terbelit-belit kesana-kemari hanya untuk merespon setiap perkataan nama yang terdengar dan terbaca, memunculkannya di benak sampai hati masuk di dalam setiap bunga tidur. Secara rutin.
Enypia.
Maka berharap untuk selalu terjaga agar jauh dan bisa menghindar.
Jika ada yang mengatakan bahwa mimpi itu adalah symptom kegilaan, maka aku mengalaminya.
hahahaha
Oh no. I think I’m in love with you.
zzzzzzzzz
Katanya kalo udah coba naik gunung itu pilihannya cuma dua, nagih banget atau kapok banget.
Untuk yang kemaren ternyata emang beneran seru walaupun cuma ngecamp aja dan ga ke puncaknya. Momen di saat makan barengnya itu sakral sekali, untuk saya yang tadinya bawa tempat makan sendiri karena ga tega atau lebih tepatnya ga bisa kalo harus makan bareng-bareng akhirnya mau makan bareng-bareng.
Dan hasilnya, liat nanti kalo ada yang kedua dan selanjutnya berarti jatuh di opsi pertama.

7 pm. 19th of April, 2012.






Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal, dan lucu.
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mendalawangi.
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.
Mari sini, sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita takkan pernah kehilangan apa-apa.
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan.
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda.
Dan yang tersial adalah berumur tua.
Berbahagialah mereka yang mati muda.
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada.
Berbahagialah dalam ketiadaanmu.
- Soe Hok Gie
I am about to make a highly unpopular statement, but here goes: I am against any form of student orientation program for freshmen.
Bear in mind though, that in Indonesia, the term ‘orientation program’ has been stripped off its original meaning, and, I argue, is just another form of senior hazing on juniors. Worse yet, it is the kind of hazing that has beeninstitutionalized.
I mean really though can someone tell me the actual meaning of ordering juniors to dress funny, humiliate them, bark at them, bully them. What is the purpose of tatibs acting all military on innocent freshmen, demanding so called “respect” and claiming authority? But most importantly, who the fuck gave them the right, the authority, the power, to act as ‘seniors acting on the interests of their juniors’?
Some may argue that all this is for the holy and noble purpose of forming a ‘union’, the feel of kekeluargaan. But such a sad pathetic ‘family’ we have if it was based on force, humiliation, and hazing. Why can’t ‘unity’ be formed organically, when people of the same interests, the same vision, the same points of view, gather together and be friends, bonded by love and respect that is not created by fucking tatibs?
I am sorry to offend many in this post, but I stand in my belief that ‘Ospek’ or ‘Osgab’ or ‘MOS’ whatever you wanna call it is barbaric, authoritarian, and just plain dumb. I’m really sorry. But throughout my first year in university I have met and known so many seniors whom I came to love, adore, and admire, and most importantly the respect that I have come to had for them are due to the fact that these individuals deserve them, not because they dressed in blacks, ordering me to look and act like a mental patient and verbally abused me.
Unless, of course, if you can convince me otherwise.
This is incredibly true. Some people said the meaning of Orientation is to feel awful, because life is pretty much awful and tough and hard and blah.blah.blah. Newsflash, bitches … Without Orientation LIFE is HARD. So, please, i would never enjoy the “life is hard simulation” by some stupid seniors who hold grudge by the elder seniors.
Shouting and Making me humiliated wont grant you anything. It’s just plain idiotic and barbaric.
In many known colleges and universities (Harvard, etc) orientation will be like sitting on the university’s park, going to the library together, knowing the facilities the pupils gonna enjoy for the rest of their study time. and that’s it, nothing such as humiliation, bringing lots of nonsense stuff, and craps were part of the orientation.
I had experienced several orientations, and instead of thinking how great to be one of the pupils in that faculty … what crossed my mind is that, this way of orientation was just sad and pathetic way that only lead to fear. not love or respect.
” Consider your origins, you were not born to be brutes.”
There’s a reason why the Sparta disappeared in many ways and even when the Greek lost the battle with the Spartans, the Greek is still around. Barbaric wont stay for a very long time, but culture and compassion of the Greek will stay for a very long time. (i know this is very cheesy and jeg jeg nong, but i wish that you’ll get my point about the whole Greek’s way and Spartan’s way)
Just read this post and…. uh-oh-maygat! Like Beeba’s first statement, this is incredibly true. About two weeks ago I did the orientation at my college and I lost 3 kilos of my weight! It was tired, pals. Woke up at 3 o’clock, then took a bath, sahur, and then went to my college before I had a pray subuh. During four days I dressed like the ‘cupu’-est girl on earth hahaha, wore the big black backpack with the unimportant stuffs in my hand. Got the tatib’s shout in my ears, “Putri tetap serius, jangan manja!”. Honestly, I’m not that kind of the ‘putri yang tidak serius’ and the ‘putri yang manja’. Just because I couldn’t do ‘posisi konsekuensi’ as well as the others at the last day, as the punishment for a fault that I never did. And now I must ready for the next orientation every Saturday during this semester at my major. Fuh. I just can say basmalah and I hope that no one of my seniors read this post hahahahahahaha.
P.S. Nemu tulisan ini di draft, dulu mau dipost masih ga berani, takut ada yang baca :)) Ternyata setelah dijalani, SPARTA dan PDKT kemarin itu banyak gunanya, terutama PDKT. Dulu mikirnya apa-apaan sih itu senior-senior? Ngerasa terancam tiap kali liat tatib dan komdis berkeliaran. Bahkan liat senior sendiri yang bedanya satu angkatan aja udah kayak liat macan. Setelah malam puncak baru kerasa manfaatnya apa. Dan sekarang, sedang dalam tahap perisapan akan meorientasi adik-adik baru hahahaha. Coming soon SPARTA 2012 and PDKT 2012.

This is what I named as a “Masa-masa kelam kontrak perkuliahan”
This time is too cold. Both of my hand and feet are freezing. So I try to make my body feel warmer with doing some tasks. At first I think I can do that penkom thingy, an hour later I realized that I am not understand about it at all hahahaha! Pathetic me, so how about my mid test next week? Bismillah, let the magic begins.
Bagaimana kamu bisa mengerti langkah-langkah pengerjaannya jika yang ada di otak kamu hanya berkisar pada hal-hal itu saja? Dan cuma satu hal di antara ruang yang begitu luas.
Jadi, cepat akhir bulan. Lewati semua ujian dengan sebaik mungkin, sebisa mungkin, usaha sekeras mungkin di tengah kejenuhan, kemarahan dan kekesalan yang teramat sangat dan di antara ribuan pertanyaan di otak tanpa jawaban. Akan ada hiburan dan pengalaman baru nantinya. Apa-apa yang direncanakan di awal harus direalisasikan di akhir.
While listening to Payung Teduh’s Cerita Tentang Gunung dan Laut.
Tak perlu tertawa atau menangis pada gunung dan laut karena gunung dan laut tak punya rasa.
Aku tak pernah melihat gunung menangis biarpun matahari membakar tubuhnya.
Aku tak pernah melihat laut tertawa biarpun kesejukan bersama tariannya.
“…Angin Pujaan Hujan akan berkunjung di saat musim hujan tiba, dimana itu adalah waktu terbaik untuk menikmati Payung Teduh. Ketika matahari terik dan kita mencoba mencari tempat berlindung dari sengatnya atau ketika langit mendung dan hujan turun.” (Sarah Glandosch)
Katanya sebuah lagu tentang kerinduan. Terasa di liriknya. Dan seperti malam ini.
Hey there, I’m on my way home from the one and only lovely place which calls Jatinangor with a bus *sigh*. There’s Hana beside me. But we’re not talking each other since I feel more comfy with my phone and write this one. (7.21 pm)
Muka lusuh, rambut lepek, badan gatel-gatel setelah tadi rapat di kebon depan dekanat saking ga ada lagi tempatnya. Mana panas, tapi ya udah lah ya. Lagian ini ngapain sih nulis ginian? Padahal tangan beku, kena AC busnya dingin banget. Udah lama juga ga nulis dan cerita random. Since I have no place to tell my tales. (7.26 pm)
Dalam keadaan penat padahal uts pun belum. Sebelum masuk kangennya bukan main sama yang namanya Jatinangor. Sekarang? Ketemu kamu lagi, even weekend! Bosen, aslinya. Hidup saya masih lama di tempat ini. Masih harus main kalkulator, hitung-hitungan angka yang banyak banget itu angka di belakang komanya. Pindah panas dihitung, pipa bahkan belokannya juga dihitung. Belom lagi sama grafiknya. Sebenernya ini bukan keluhan, karena tampaknya ini terlalu dini untuk mengeluh. (7.30pm)
Untungnya masih ada kegiatan lain di luar kegiatan kuliah yang hanya sebatas formalitas, menurut saya.
Sebentar lagi, beberapa langkah lagi sampe rumah. Mau makan dulu, baru siap-siap buat besok. Ini udah di rumah, masuk kamar. Maunya rebahan, tapi nanti lagi, laper. (7.40pm)
(8.01pm) Lagi anteng denger We’re All in The Dance sambil scan grafik pindah panas. Buat yang gatau grafiknya kayak apa, mending ga usah mau tau daripada nyesel udah tau.
Terakhir, saya ga ngeluh. Tapi saya yakin Tuhan itu bersama orang yang sedang dalam masa-masa jenuh pada jurusannya dan sebagian penghuni di dalamnya. (8.09pm)
Theme Chunk 5, by Max davis.



